Jakarta – Negara-negara peserta Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) mulai membahas target baru elektrifikasi global dan pengurangan limbah dalam pertemuan persiapan yang digelar di Bonn, Jerman. Sekretaris Eksekutif UN Climate Change, Simon Stiell, menegaskan krisis iklim merupakan tantangan terbesar yang harus dihadapi bersama oleh seluruh negara.
Stiell mengatakan percepatan aksi iklim tidak lagi dapat ditunda, terlebih ketika gelombang panas mematikan telah melanda sejumlah wilayah di Eropa dan Asia. Para ilmuwan juga memperingatkan kemungkinan terjadinya fenomena “super El NiƱo” yang dapat memperparah kenaikan suhu global serta memicu kekeringan dan banjir di berbagai belahan dunia.
“Ini adalah hal tersulit, tetapi juga paling penting yang pernah dicoba umat manusia untuk dilakukan bersama. Setiap ekonomi dan populasi bergantung padanya,” ujar Stiell dalam pertemuan tersebut.
Dalam agenda COP31, negara-negara peserta juga mempertimbangkan target elektrifikasi global sebesar 35 persen pada 2035 sebagai bagian dari upaya transisi menuju ekonomi rendah karbon. Selain itu, Turki selaku tuan rumah bersama COP31 mengusulkan agar laju pertumbuhan sampah global dapat dipangkas hingga setengahnya pada 2035 guna mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

