BERITALINGKUNGAN.COM, JAKARTA — Sebuah rekaman video pendek yang memperlihatkan nasib memprihatinkan seekor kuskus di Papua Selatan mendadak viral dan mencuri perhatian publik.
Dalam video yang diunggah oleh akun TikTok @wahyu.putra376, mamalia berkantung tersebut tampak pasrah memegangi ujung dahan pohon yang telah tumbang di tengah kawasan pembukaan lahan.
Di sekeliling satwa malang itu, raungan alat-alat berat terdengar saling bersahutan sembari terus meratakan pepohonan hutan yang selama ini menjadi rumah aslinya.
Potret ini menjadi gambaran nyata bagaimana ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN) mengancam keberlangsungan hidup satwa endemik di tanah Papua.
Ancaman Nyata bagi Ruang Hidup Satwa
Kuskus merupakan salah satu mamalia berkantung (marsupial) khas Indonesia yang habitat alaminya tersebar di wilayah Papua, Maluku, Sulawesi, hingga Timor.
Sebagai satwa arboreal yang menggantungkan seluruh aktivitas hidupnya di atas pepohonan, aktivitas pembabatan hutan (land clearing) secara masif praktis memutus rantai hidup mereka.
Fenomena ini memicu keprihatinan luas dari netizen dan aktivis lingkungan. Banyak pihak menilai bahwa deforestasi atas nama pembangunan ekonomi kerap mengabaikan mitigasi penyelamatan keanekaragaman hayati.
Dampak Lanjutan Deforestasi di Papua
Hilangnya tutupan hutan primer di Papua tidak sekadar merusak bentang alam, tetapi juga memicu krisis ekologis yang lebih luas:
- Fragmentasi Habitat: Lahan yang terfragmentasi mengisolasi populasi satwa, meningkatkan risiko kepunahan lokal, serta memicu konflik antara manusia dan satwa liar.
- Ancaman Keanekaragaman Hayati: Papua menyimpan ribuan spesies flora dan fauna endemik yang tidak ditemukan di belahan bumi manapun. Hilangnya vegetasi asli secara permanen menghancurkan ekosistem tersebut.
- Krisis Iklim: Pembukaan hutan skala besar melepaskan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer, mempeparah dampak perubahan iklim global.
Video kuskus bertahan di dahan tumbang ini menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan.
Pembangunan infrastruktur dan proyek nasional dinilai perlu mengevaluasi kembali amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) serta menjamin keberadaan koridor satwa agar pembangunan tak mengorbankan sisa-sisa ruang hidup keanekaragaman hayati Indonesia (Marwan Aziz).

