Jakarta – Gelombang panas dan kekeringan berkepanjangan semakin memperparah kondisi sejumlah wilayah Eropa. Sungai-sungai utama mengalami penurunan debit hingga mencapai rekor terendah, sementara kekeringan berdampak pada pertanian, ekosistem, transportasi, dan produksi energi, Rabu (12/8).
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut Juli 2026 menjadi bulan Juli terpanas kedua yang pernah tercatat secara global. Eropa Barat bahkan mengalami periode Juni-Juli terpanas sepanjang pencatatan, dengan gelombang panas masih berlanjut hingga Agustus. Kepala Informasi Iklim WMO John Kennedy mengatakan kondisi tersebut merupakan “efek gabungan pemanasan jangka panjang” dan pola tekanan udara yang membuat cuaca panas serta kering bertahan lebih lama.
Dampak kekeringan terlihat jelas di sejumlah negara. Prancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris mengalami curah hujan serta kelembapan tanah yang sangat rendah. Kondisi tersebut memperparah kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Kekeringan juga menyebabkan permukaan sungai turun drastis hingga mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi.
Di Jerman, Sungai Rhine yang menjadi jalur penting bagi industri Eropa mengalami penurunan permukaan hingga melewati rekor terendah yang tercatat pada 2018. Di Kaub, rendahnya permukaan air membuat kapal kargo harus mengurangi muatan. Akibatnya, lebih banyak kapal dibutuhkan untuk mengangkut jumlah barang yang sama dan biaya pengiriman ikut meningkat.
Belanda menghadapi kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda menyebut situasinya sebagai “sangat luar biasa”. Debit Sungai Rhine di Lobith turun menjadi 615 meter kubik per detik, level terendah sepanjang pencatatan. Defisit curah hujan nasional diperkirakan mencapai 300 milimeter, sementara di sejumlah wilayah telah melampaui 400 milimeter.
Kekeringan berkepanjangan juga mulai merusak sektor pertanian dan ekosistem. Kualitas air menurun, sementara ganggang hijau-biru dan kematian ikan dilaporkan di sejumlah wilayah. Pemerintah Belanda bahkan telah meningkatkan status kondisi air dari “ancaman kekurangan air” menjadi “kekurangan air aktual” dan menerapkan berbagai langkah penghematan air.
Kondisi Eropa menunjukkan bahwa panas ekstrem dan kekeringan tidak hanya menjadi persoalan cuaca, tetapi telah berkembang menjadi ancaman terhadap pangan, transportasi, energi, dan ketersediaan air. Dengan debit sungai yang diperkirakan masih rendah hingga Desember di beberapa wilayah, Eropa kini menghadapi tekanan iklim yang semakin serius. (Bayu Nanda)

