Jakarta – Citra satelit yang dianalisis Al Jazeera dan dipublikasikan pada Rabu (17/6/2026) menunjukkan 10 kawasan perairan di berbagai belahan dunia mengalami penyusutan drastis akibat kekeringan, perubahan iklim, dan aktivitas manusia. Fenomena yang dikenal sebagai continental drying itu membuat dunia kehilangan sekitar 324 triliun liter air tawar setiap tahun, setara kebutuhan air sekitar 280 juta orang.
Salah satu kasus paling mencolok terjadi di Laut Aral yang berada di perbatasan Kazakhstan dan Uzbekistan. Danau yang pernah menjadi terbesar keempat di dunia itu kini kehilangan sebagian besar wilayah perairannya akibat pengalihan aliran sungai untuk kebutuhan irigasi. Di Timur Tengah, Danau Urmia di Iran juga menyusut drastis akibat kekeringan berkepanjangan dan penggunaan air berlebihan untuk pertanian. Sementara di Afrika, Danau Chad yang menjadi sumber kehidupan jutaan penduduk terus mengecil sejak beberapa dekade terakhir karena berkurangnya curah hujan dan meningkatnya kebutuhan air.

Krisis serupa juga terlihat di Amerika Serikat. Waduk Lake Mead yang memasok air bagi jutaan warga Nevada, Arizona, dan California mencapai level terendah dalam sejarah akibat kekeringan di Sungai Colorado. Selain itu, Great Salt Lake juga terus menyusut karena perubahan iklim dan pengalihan air dari hulu sungai. Di Amerika Selatan, Sungai Paraná mengalami penurunan debit yang mengganggu transportasi, pertanian, dan produksi listrik tenaga air.

Meski tidak masuk dalam daftar Al Jazeera, Indonesia juga menghadapi ancaman serupa. Salah satu contohnya adalah Danau Limboto di Gorontalo yang terus menyusut akibat sedimentasi dan erosi daerah aliran sungai. Sejumlah penelitian menunjukkan luas danau tersebut berkurang signifikan dalam beberapa dekade terakhir sehingga meningkatkan risiko banjir dan mengganggu ekosistem perairan.

Ancaman lain terjadi di Papua, tempat gletser abadi Puncak Jaya yang dikenal sebagai “salju abadi” Indonesia hampir menghilang seluruhnya. Penelitian terbaru menunjukkan luas permukaan es telah menyusut lebih dari 99 persen dibandingkan kondisi pada 1850 akibat pemanasan global. Para ilmuwan memperkirakan sisa gletser tersebut dapat lenyap sepenuhnya dalam waktu dekat.
Kondisi kekeringan juga mulai meluas di sejumlah wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2026. BMKG mencatat sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mengalami periode tanpa hujan yang semakin panjang, sementara BNPB melaporkan sejumlah daerah mulai mengalami krisis air bersih. Fenomena ini menjadi peringatan bahwa tekanan terhadap sumber daya air tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga mulai dirasakan di Indonesia.
Laporan Al Jazeera tersebut menjadi pengingat bahwa krisis air kini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Dari Laut Aral hingga Danau Limboto, penyusutan sumber air menunjukkan bagaimana perubahan iklim dan aktivitas manusia dapat mengubah bentang alam yang selama puluhan bahkan ratusan tahun menjadi penopang kehidupan masyarakat.

