Jakarta – Usulan gerakan nasional “Satu Jam Hemat Energi” kembali mencuat sebagai upaya memperkuat efisiensi energi dan menekan emisi karbon di Indonesia, terinspirasi dari program pemadaman lampu selama satu jam yang sebelumnya dilakukan di Jakarta. Usulan tersebut disampaikan pada Senin (23/6/2026) dan dinilai berpotensi menjadi gerakan nasional berbasis partisipasi masyarakat.
Gagasan ini muncul setelah keberhasilan program serupa di DKI Jakarta yang dilakukan secara berkala, di mana warga dan instansi mematikan lampu selama satu jam sebagai bentuk kampanye pengurangan konsumsi listrik. Program tersebut terbukti memberikan dampak nyata terhadap penghematan energi dan penurunan emisi karbon di wilayah ibu kota.
Ketua pembina yayasan energi dan lingkungan, Dzulfikar Rezky, menyebut bahwa ketergantungan Indonesia terhadap batu bara dalam pembangkit listrik membuat setiap upaya penghematan listrik menjadi sangat penting. Ia menilai gerakan sederhana seperti mematikan listrik selama satu jam dapat memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara nasional.
“Pengalaman DKI Jakarta menunjukkan bahwa penghematan energi melalui pemadaman lampu yang dilakukan secara terencana mampu menghasilkan manfaat terukur, baik dari sisi penghematan biaya maupun pengurangan emisi karbon,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip dari laporan tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa secara teoritis, penghematan bisa mencapai sekitar 1.000 MWh jika dilakukan secara luas oleh jutaan rumah tangga, sehingga gerakan ini dinilai relevan untuk dijadikan program nasional dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi di Indonesia (Bayu Nanda).

