Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi sel surya berbasis pigmen fotosintesis bakteri ungu sebagai alternatif energi terbarukan. Inovasi yang diumumkan pada Senin (15/6/2026) itu memanfaatkan kemampuan alami bakteri dalam menangkap cahaya matahari untuk menghasilkan energi listrik.
Perekayasa Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Tulus, mengatakan penelitian tersebut menggunakan protein kompleks fotosintesis reaction center-light harvesting 1 (RC-LH1) dari bakteri ungu Rhodobacter sphaeroides sebagai lapisan penyerap cahaya pada perangkat sel surya. Material biologis tersebut dikombinasikan dengan berbagai lapisan semikonduktor untuk menghasilkan pemisahan muatan listrik saat terpapar cahaya matahari.
“Pada prinsipnya, fotosintesis dan fotovoltaik memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memanfaatkan energi cahaya matahari. Fotosintesis mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, sedangkan fotovoltaik mengubahnya menjadi energi listrik,” kata Tulus dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Menurut Tulus, teknologi ini termasuk kategori sel surya generasi ketiga atau third-generation solar cells yang lebih ramah lingkungan karena diproses pada suhu rendah dan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah. Hasil penelitian awal juga menunjukkan perangkat bio-fotovoltaik yang dikembangkan mampu menghasilkan tegangan rangkaian terbuka yang tinggi, sehingga dinilai berpotensi mendukung pengembangan energi bersih di masa depan (Bayu Nanda).

