PULAU PARI, BERITALINGKUNGAN.COM – Ancaman perubahan iklim kini tak lagi sekadar isu global di ruang seminar.
Di wilayah kepulauan seperti Pulau Pari, dampaknya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat dan dunia pendidikan.
Berangkat dari kondisi itu, dosen dan peneliti dari Universitas Negeri Jakarta melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) hadir mendorong sekolah kepulauan agar lebih siap menghadapi krisis iklim lewat pendidikan berbasis lingkungan.
Program pengabdian masyarakat yang dipimpin Dr. Rihlah Nur Aulia itu digelar di SMPN Satu Atap-1 Pulau Pari dengan mengusung tema “Pemberdayaan Sekolah Kepulauan dalam Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal Perubahan Iklim untuk Mendukung FOLU Net Sink 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.”
Kegiatan tersebut menjadi langkah konkret untuk memperkuat kapasitas guru dan siswa dalam memahami isu perubahan iklim sekaligus mengintegrasikannya ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah.
Tidak hanya berupa seminar, program ini dikemas secara interaktif melalui diskusi, lokakarya penyusunan kurikulum, hingga simulasi pembelajaran berbasis lingkungan.
Mahasiswa UNJ juga turut terlibat mendampingi para guru dan siswa selama kegiatan berlangsung.
Dr. Rihlah Nur Aulia menilai sekolah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat, terutama di kawasan kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
“Sekolah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran akademik, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan pendidikan berbasis kearifan lokal menjadi strategi penting agar generasi muda mampu memahami persoalan lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari kenaikan muka air laut hingga perubahan ekosistem pesisir.
Program ini juga diarahkan untuk mendukung target nasional FOLU Net Sink 2030, yakni upaya pemerintah menyeimbangkan emisi dan serapan karbon dari sektor kehutanan serta penggunaan lahan.
Kepala SMPN Satu Atap-1 Pulau Pari, Trimo, S.Pd., MM, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi para guru dan siswa dalam memahami isu iklim secara lebih dekat dan aplikatif.
“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya program pemberdayaan ini. Guru dan siswa mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana perubahan iklim dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum,” katanya.
Ia menambahkan, pembelajaran berbasis lingkungan menjadi penting bagi sekolah di wilayah kepulauan karena kondisi geografis mereka sangat dekat dengan berbagai tantangan ekologis.
“Kegiatan ini bukan hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini, terutama di sekolah Pulau Pari,” tambahnya.
Melalui program ini, UNJ berharap sekolah-sekolah kepulauan lainnya dapat mengembangkan kurikulum yang relevan dengan kondisi lokal sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) (Wan)

