Jakarta – Para peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) Amerika Serikat mengembangkan sistem peringatan dini yang mampu memprediksi risiko pemutihan karang hingga lima sampai enam bulan sebelum terjadi. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment itu diharapkan membantu upaya perlindungan terumbu karang dari dampak pemanasan laut.
Penelitian tersebut menemukan bahwa pemutihan karang di Pulau Curacao, Karibia, cenderung terjadi ketika tiga pola iklim global, yakni Atlantic Multidecadal Variability (AMV), El Nino Southern Oscillation (ENSO), dan North Atlantic Oscillation (NAO), muncul dalam kombinasi tertentu yang memicu peningkatan suhu laut. Berdasarkan temuan itu, tim peneliti mengembangkan sistem Bleaching Event Early Predictor (BEEP) yang memantau perubahan pola iklim beberapa bulan sebelum musim panas.
Penulis utama studi, Mariya Galochkina, mengatakan metode prediksi yang ada saat ini umumnya hanya mengandalkan pemantauan suhu laut secara hampir real time sehingga waktu persiapan mitigasi menjadi terbatas. “Kami menggunakan pola-pola iklim global yang saling berinteraksi dan memengaruhi kondisi laut serta atmosfer dengan jeda waktu tertentu. Karena itu, risiko pemutihan karang dapat dikenali beberapa bulan lebih awal,” ujarnya.
Melalui waktu tambahan tersebut, pengelola kawasan konservasi dapat memindahkan fragmen karang ke perairan yang lebih sejuk atau ke fasilitas pembibitan darat saat risiko pemutihan meningkat. Para peneliti menilai pendekatan BEEP berpotensi diterapkan di kawasan terumbu karang lain, seiring meningkatnya ancaman pemutihan massal akibat pemanasan global yang telah memengaruhi sekitar 84,4 persen terumbu karang dunia sepanjang 2023 hingga 2025 (Bayu Nanda).

