Jakarta – Gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat krisis iklim menimbulkan ancaman serius bagi satwa liar di berbagai belahan dunia. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology and Evolution dan dilaporkan pada Jumat (19/6/2026) menunjukkan sekitar tiga perempat spesies hewan darat dan laut terdampak gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah barat Amerika Utara pada 2021.
Ahli burung dari Museum Nasional Sejarah Alam Paris, Gregoire Lois, mengatakan gelombang panas dapat menjadi ancaman mematikan bagi satwa liar karena terjadi secara tiba-tiba dan memberi sedikit waktu bagi hewan untuk beradaptasi. Burung menjadi salah satu kelompok paling rentan karena tidak memiliki kelenjar keringat dan harus mengandalkan penguapan air melalui saluran pernapasan untuk menurunkan suhu tubuh.
“Gelombang panas bisa menjadi sangat kejam bagi satwa liar,” kata Gregoire Lois. Anak burung yang masih berada di sarang disebut menghadapi risiko tertinggi karena rentan mengalami dehidrasi dan kepanasan saat suhu udara meningkat drastis.
Selain burung, mamalia kecil seperti landak dan tikus juga berisiko mengalami kematian akibat dehidrasi. Pada Januari 2026, ribuan kalong dilaporkan mati di Australia tenggara akibat gelombang panas. Peneliti juga menemukan hewan berukuran besar seperti koala, beruang, bison, dan rusa kutub semakin rentan terhadap suhu ekstrem, sementara hewan tanpa tulang belakang menghadapi risiko tinggi karena kemampuan berpindah tempat yang terbatas saat lingkungan mereka menjadi terlalu panas (Bayu Nanda).

