Jakarta – Ilmuwan mengungkap alasan utama kukang (sloth) bergerak sangat lambat, yakni karena adaptasi biologis unik yang berkaitan dengan metabolisme tubuh dan cara mereka bertahan hidup di alam liar. Studi yang dipublikasikan CNN Indonesia pada Senin (22/6/2026) itu menyoroti bagaimana evolusi membuat kukang menjadi salah satu mamalia paling hemat energi di dunia.
Para peneliti menjelaskan bahwa kukang memiliki laju metabolisme yang sangat rendah, jauh di bawah mamalia lain dengan ukuran tubuh serupa. Kondisi ini dipicu oleh pola makan mereka yang didominasi daun-daunan rendah kalori dan sulit dicerna, sehingga tubuh harus menghemat energi secara ekstrem untuk bertahan hidup.
“Tubuh kukang bekerja dengan ‘anggaran energi yang sangat ketat’,” kata salah satu peneliti yang dikutip dalam laporan tersebut. Karena itu, hampir seluruh aktivitas fisik mereka dilakukan secara perlahan untuk menghindari pemborosan energi.
Studi juga menemukan bahwa rendahnya kebutuhan energi tersebut berdampak pada sistem biologis lain, termasuk suhu tubuh yang tidak stabil serta kemampuan otot yang lebih cocok untuk bertahan di pohon daripada bergerak cepat di darat. Bahkan, beberapa ilmuwan menyebut kondisi ini membuat kukang seperti hidup dalam “mode hemat energi permanen”.
Selain faktor makanan, adaptasi ini juga dipengaruhi oleh strategi bertahan hidup di hutan tropis. Gerakan lambat membantu kukang menghindari predator karena mereka lebih sulit dideteksi, sekaligus mengurangi kebutuhan energi harian yang sangat minim dibandingkan mamalia lainnya.

