Jakarta – Studi terbaru yang dipresentasikan dalam konferensi ASM Microbe 2026 pada Sabtu (6/6/2026) mengungkapkan bahwa luapan air limbah ke lingkungan rumah dapat meningkatkan risiko paparan bakteri resisten antibiotik. Temuan ini mendorong perlunya investasi lebih besar pada infrastruktur air dan sanitasi untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Peneliti utama dari Universitas Maryland, Nick An menjelaskan bahwa luapan air limbah terjadi ketika limbah yang tidak diolah masuk ke rumah atau lingkungan akibat pipa rusak, tersumbat, atau kelebihan kapasitas. Dalam penelitian yang dilakukan pada 86 rumah di Maryland sepanjang Oktober 2023 hingga Juni 2025, tim peneliti menemukan hampir 46 persen rumah mengandung bakteri Enterococci yang menjadi indikator kontaminasi tinja.
Studi tersebut juga menunjukkan lebih dari sepertiga rumah mengandung bakteri yang resisten terhadap antibiotik, sementara lebih dari 10 persen rumah ditemukan memiliki bakteri yang resisten terhadap berbagai jenis obat. “Hal ini terjadi ketika air limbah yang tidak diolah masuk ke rumah atau lingkungan melalui pipa yang rusak, tersumbat, atau kelebihan beban,” kata Nick An, dikutip dari Phys, Sabtu (6/6/2026).
Peneliti menilai meningkatnya kejadian cuaca ekstrem dan menuanya sistem saluran pembuangan dapat memperbesar risiko penyebaran bakteri berbahaya ke lingkungan permukiman. Tim peneliti berencana melanjutkan pengambilan sampel pada rumah-rumah yang terdampak banjir dan luapan limbah serta membagikan hasil penelitian kepada masyarakat di Maryland yang terdampak pencemaran air limbah.

