Jakarta – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) lebih layak menjadi solusi untuk mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) dibandingkan biofuel di tengah ketidakpastian energi global akibat konflik geopolitik. Penilaian tersebut disampaikan dalam Editors Meeting yang digelar Yayasan Indonesia Cerah pada Kamis (4/6/2026).
Manajer Mobilitas Berkelanjutan, Lingkungan Bersih, dan Bangunan IESR, Rahmi Puspita Sari mengatakan penggunaan biofuel justru berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan emisi gas rumah kaca. Menurutnya, subsidi biofuel melalui biodiesel maupun bioetanol mencapai Rp6.000 hingga Rp9.000 per liter, sementara subsidi kendaraan listrik sekitar Rp11 juta per unit dengan nilai manfaat fiskal yang lebih baik.
Selain itu, IESR mencatat emisi gas rumah kaca dari biofuel dapat mencapai 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil apabila memperhitungkan aspek penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan (LULUCF). “Ketika kami menghitung emisinya itu naik malah 2,5 kali lipat dari solar biasa,” ujar Rahmi.
Dari sisi ketahanan energi, kendaraan listrik dinilai mampu menghemat impor BBM hingga Rp14,5 juta-Rp19,5 juta per unit selama 10 tahun serta tidak bergantung pada komoditas global dan musim panen. Sementara biofuel masih menghadapi keterbatasan teknis terkait peningkatan campuran bahan bakar pada kendaraan yang beredar saat ini.

