Jakarta – Eks Perdana Menteri Inggris Tony Blair menuai kritik tajam dari para ahli energi dan iklim usai menyerukan peningkatan eksplorasi minyak dan gas serta pelonggaran target net zero Inggris. Pernyataan Blair disampaikan di tengah krisis iklim dan lonjakan suhu ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Eropa pada Mei 2026.
Sejumlah pakar menilai usulan Blair justru berpotensi memperburuk ketidakstabilan energi dan memperbesar dampak perubahan iklim. Direktur kampanye lembaga E3G, Ed Matthew, menyebut gagasan tersebut “aneh” karena energi terbarukan dinilai kini lebih murah dan aman dibanding bahan bakar fosil. Para ahli juga menegaskan pembukaan ladang minyak dan gas baru di Laut Utara tidak akan menurunkan harga energi domestik Inggris.
Blair juga menyoroti efektivitas kebijakan iklim Inggris saat ini, Blair menilai kebijakan net zero terlalu membebani masyarakat dan bisnis ketika negara-negara besar lain belum melakukan langkah serupa. Namun, kelompok lingkungan dan ilmuwan iklim menilai target net zero tetap penting untuk mencegah dampak ekonomi dan ekologis yang lebih besar di masa depan.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ikut menanggapi kritik Blair dengan menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjalankan transisi energi bersih. Pemerintah Inggris menyebut kebijakan net zero didasarkan pada rekomendasi ilmiah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengurangi emisi karbon.

