Saat Hujan Datang Lebih Ganas, Bumi Justru Semakin Haus

Berita Lingkungan Perubahan Iklim Riset Terkini

LOS ANGELES, BERITALINGKUNGAN.COM– Awan hitam menggulung di langit Los Angeles pada Desember 2021. Hujan deras turun seperti ditumpahkan dari ember raksasa di atmosfer.

Jalan-jalan berubah menjadi sungai kecil, peringatan banjir disiarkan tanpa henti, dan warga mengira bumi sedang mendapat “bonus air” setelah musim kering panjang.

Namun sains terbaru menunjukkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan: semakin ekstrem hujan turun, semakin kering pula daratan dalam jangka panjang.

Penelitian terbaru dari Dartmouth College mengungkap bahwa selama empat dekade terakhir, curah hujan dunia makin terkonsentrasi dalam badai-badai besar yang diselingi periode kering lebih panjang.

Hujan tidak lagi datang perlahan dan merata, melainkan turun sekaligus dalam ledakan singkat yang sulit diserap tanah.

Fenomena ini ibarat memberi seseorang minum melalui selang pemadam kebakaran. Air memang banyak, tetapi tubuh tidak mampu menyerapnya dengan baik.

“Tidak peduli di mana Anda berada, hujan yang makin terkonsentrasi berarti lebih sedikit air tersedia bagi daratan,” kata Justin Mankin, profesor geografi sekaligus penulis senior studi tersebut.

Ketika Tanah Tak Lagi Sanggup “Minum”

Selama ini, banyak orang mengira peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim otomatis berarti lebih banyak cadangan air.

Tetapi penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature justru menunjukkan hal sebaliknya.

Tanah memiliki batas kemampuan menyerap air. Saat hujan turun terlalu deras dalam waktu singkat, sebagian besar air tidak masuk ke dalam tanah maupun akuifer. Air menggenang di permukaan, mengalir menjadi banjir, lalu menguap kembali ke atmosfer sebelum sempat dimanfaatkan tumbuhan atau manusia.

Akibatnya, bumi mengalami paradoks iklim modern: banjir lebih sering terjadi, tetapi kekeringan juga makin parah.

Peneliti Corey Lesk dan timnya menganalisis data curah hujan global dari 1980 hingga 2022. Mereka menemukan bahwa pola hujan makin tidak merata hampir di seluruh dunia, baik di wilayah basah maupun kering.

Untuk mengukur ketimpangan distribusi hujan, para ilmuwan menggunakan pendekatan unik: koefisien Gini—alat yang biasanya dipakai untuk mengukur kesenjangan kekayaan ekonomi.

Jika nilai Gini mendekati nol, hujan turun merata sepanjang tahun. Jika mendekati satu, berarti hampir seluruh hujan tahunan jatuh hanya dalam satu atau dua hari ekstrem.

Hasilnya menunjukkan tren yang jelas: dunia sedang bergerak menuju “ketimpangan hujan”.

Amazon dan Barat Amerika Jadi Alarm Dunia

Di beberapa wilayah, perubahan itu berlangsung dramatis. Pegunungan Rocky di Amerika Serikat mengalami peningkatan konsentrasi hujan hingga 20 persen.

Sementara di lembah Amazon Amerika Selatan—paru-paru dunia—hujan menjadi 30 persen lebih terkonsentrasi dibanding 1980. Artinya, badai makin intens, tetapi jeda tanpa hujan juga semakin panjang.

Fenomena ini menciptakan siklus “boom-bust” iklim: hujan ekstrem datang singkat, lalu disusul kekeringan panjang yang melelahkan ekosistem.

Hutan hujan tropis yang selama jutaan tahun hidup dari ritme hujan stabil kini dipaksa beradaptasi dengan pola cuaca yang lebih liar. Sungai dapat meluap dalam hitungan hari, lalu menyusut drastis beberapa minggu kemudian.

Di wilayah lain seperti Arktik, Kanada, dan Eropa Utara, hujan justru menjadi lebih merata. Tetapi ilmuwan memperingatkan bahwa kondisi itu kemungkinan hanya sementara akibat meningkatnya pencairan salju dan perubahan pola musim dingin.

Asia Tenggara—termasuk Indonesia—menunjukkan pola yang lebih kompleks. Wilayah monsun ini sementara tampak mengalami distribusi hujan yang lebih menyebar sepanjang tahun. Namun model iklim memprediksi kawasan ini dapat berbalik mengalami hujan yang lebih sporadis dan periode kering lebih panjang seiring kenaikan suhu global.

Dunia yang Lebih Panas, Dunia yang Lebih Tidak Setara

Penelitian itu memperkirakan kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celsius dapat membuat 27 persen populasi dunia menghadapi kondisi daratan yang lebih kering, meskipun total curah hujan tahunan meningkat.

Dengan kata lain, perubahan iklim bukan hanya soal “lebih banyak atau lebih sedikit hujan,” melainkan bagaimana hujan itu turun.

“Curah hujan, seperti kekayaan, menunjukkan distribusi yang sangat tidak setara,” ujar Mankin. “Dan pemanasan global kemungkinan akan memperbesar ketimpangan itu.”

Bagi kota-kota besar, ancamannya bukan hanya banjir mendadak, tetapi juga ketidakpastian pasokan air bersih.

California telah mengalami dilema ini selama beberapa tahun terakhir. Ketika badai atmosferik river mengguyur negara bagian itu dengan hujan besar, pengelola waduk harus memilih: membuang sebagian cadangan air untuk menampung hujan baru, atau mempertahankannya dengan risiko bendungan meluap.

Keputusan yang dulu hanya dihadapi wilayah gurun kini mungkin akan menjadi persoalan global.

Indonesia dan Masa Depan yang Basah Sekaligus Kering

Bagi Indonesia, penelitian ini menjadi peringatan yang sangat relevan. Negeri kepulauan ini semakin akrab dengan cuaca ekstrem: banjir besar di musim hujan, kekeringan panjang di musim kemarau, serta pola musim yang makin sulit diprediksi petani.

Di banyak kota, hujan deras dalam beberapa jam mampu melumpuhkan aktivitas dan memicu longsor. Namun setelah badai berlalu, cadangan air tanah tetap minim karena air tidak terserap optimal.

Fenomena itu menunjukkan bahwa krisis air masa depan mungkin tidak selalu ditandai oleh langit tanpa hujan. Justru, ancaman bisa datang dari hujan yang terlalu deras.

Bumi sedang berubah menjadi tempat di mana air turun lebih banyak, tetapi semakin sedikit yang benar-benar tinggal di daratan.

Dan di tengah iklim yang memanas, umat manusia mungkin harus belajar satu kenyataan baru: banjir dan kekeringan bukan lagi dua bencana yang terpisah melainkan dua wajah dari krisis yang sama (Marwan Aziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *