CEO Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau. Foto : Marwan Aziz/Beritalingkungan.com.
BOGOR, BERITALINGKUNGAN.COM— Di tengah lanskap konservasi Indonesia yang menghadapi tekanan semakin kompleks, sebuah forum lama kembali membuka lembaran baru.
Bukan sekadar menghidupkan kenangan masa lalu, tetapi mencoba menemukan kembali relevansinya untuk masa depan.
Pesan itu mengemuka dari Taman Safari Indonesia, Jumat (21/8/2026), ketika CEO Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menyampaikan sambutan dalam pembukaan Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (OWAKA) 2026.
Bagi Aswin, pertemuan tersebut memiliki makna personal. Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) bukan nama yang asing baginya.
Bahkan, ia menyebut dirinya mungkin merupakan salah satu “produk” FOKSI—forum yang sejak puluhan tahun lalu mempertemukan pegiat konservasi dan insan media untuk membicarakan masa depan satwa serta lingkungan Indonesia.
“FOKSI ini dekat di hati saya. Bisa jadi, saya adalah produk dari FOKSI,” ujar Aswin dalam sambutannya di Rumah Villa Cafe Macan Tutul- Taman Safari Indonesia, Bogor.
Kenangan masa kecil dan meja-meja diskusi konservasi
Ingatan Aswin tentang FOKSI berawal dari masa kanak-kanak. Ia mengenang sang ayah yang kerap duduk bersama sejumlah tokoh yang dikenalnya sebagai pribadi unik, lucu, tetapi sangat kritis ketika membahas persoalan konservasi.
Pada masa itu, jurnalis lingkungan
dan pegiat konservasi seperti Rudi Badil, Bang Berto, hingga Bang Ciwo ikut duduk bersama, bertukar pandangan dan menyamakan persepsi mengenai berbagai persoalan lingkungan.
Bagi Aswin kecil, suasana itu menjadi pengalaman yang membekas.
Setiap kali mengikuti sang ayah dalam kegiatan FOKSI, ia merasakan seolah-olah “semangat konservasi” kembali dipanggil.
Konservasi, menurutnya, bukan sekadar slogan. Kritik terhadap kebijakan harus mampu menjangkau regulator dan pemerintah, bahkan menjadi masukan dalam penyusunan regulasi.
Di situlah, menurut Aswin, kekuatan FOKSI pada masa lalu.
Namun zaman telah berubah.Dunia berubah, ancaman konservasi tetap sama
Aswin menggunakan perubahan teknologi dan dunia bisnis sebagai gambaran.
Perusahaan yang dahulu dianggap hebat kini bisa kehilangan relevansinya. Teknologi telepon genggam yang pernah menjadi simbol kecanggihan pun dapat menghilang dalam hitungan tahun.
Bahkan regulasi, katanya, tidak jarang tertinggal dibandingkan perubahan zaman.
“FOKSI dulu, kemungkinan besar sudah tidak relevan lagi di zaman ini,” kata Aswin.
Tetapi ada ironi besar.
Meski dunia berubah sangat cepat, persoalan mendasar konservasi Indonesia ternyata belum banyak berubah.
Hutan terus menghadapi tekanan. Populasi sejumlah spesies mengalami penurunan. Satwa liar yang seharusnya menjadi bagian penting dari ekosistem Indonesia masih menghadapi ancaman kepunahan.
Dengan kata lain, masalahnya masih sama, tetapi cara menghadapinya harus berubah.
Dari sinilah Aswin menawarkan sebuah gagasan: FOKSI 2.0. FOKSI 2.0: bukan sekadar berteriak, tetapi memberi solusi
Menurut Aswin, FOKSI perlu menemukan kembali identitasnya sebagai sebuah forum konservasi yang modern, relevan dan solutif.
Bukan hanya mengkritik kerusakan hutan atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada lingkungan—karena suara seperti itu sudah banyak.
Yang dibutuhkan, menurutnya, adalah lembaga yang mampu menerjemahkan isu konservasi menjadi pengetahuan, pendidikan, dialog kebijakan dan solusi nyata.
Ia mendorong FOKSI untuk memiliki visi yang tajam, misi yang jelas serta strategi yang realistis untuk dikerjakan bersama.
“Menemukan kembali jati diri, visi yang tajam, misi dan strategi yang relevan, solutif dan realistis untuk dikerjakan bersama-sama,” ujarnya.
Menjadikan konservasi sebagai pengetahuan sejak sekolah
Salah satu gagasan paling kuat yang disampaikan Aswin adalah menjadikan FOKSI sebagai pilar edukasi konservasi bagi masyarakat Indonesia.
Menurutnya, ruang tersebut masih sangat terbuka.
FOKSI dapat masuk ke dunia pendidikan—mulai dari anak sekolah dasar hingga mahasiswa. Pengetahuan tentang satwa, ekosistem, hutan dan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati perlu diperkenalkan sejak dini.
Tidak berhenti di ruang kelas, FOKSI juga dapat mendorong lahirnya lebih banyak artikel edukatif dan positif mengenai konservasi yang dapat menjangkau masyarakat luas.
Sebab, konservasi tidak akan pernah menjadi gerakan besar apabila hanya dipahami oleh kalangan tertentu.
Ia harus menjadi pengetahuan publik.
Anak-anak perlu mengenal satwa sebelum mereka hanya melihatnya melalui layar. Generasi muda perlu memahami hutan bukan semata sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai rumah bagi kehidupan.
Taman Safari membuka pintu untuk FOKSI baru
Bagi Taman Safari Indonesia, gagasan FOKSI 2.0 bukan sesuatu yang harus berjalan sendirian.
Aswin menegaskan kesiapan Taman Safari Indonesia untuk mendukung proses tersebut.
Dukungan itu tidak hanya berupa fasilitas. TSI, menurut Aswin, memiliki pengalaman panjang selama sekitar 45 tahun dalam sektor riil dan konservasi, sekaligus sumber daya manusia dan jaringan yang dapat membantu pengembangan FOKSI.
Mulai dari keahlian konservasi, aspek legal, keuangan hingga jejaring internasional dan pemerintahan dapat menjadi bagian dari dukungan tersebut.
“TSI siap untuk menuntun,” ujarnya.
Pesan itu menjadi penting karena konservasi modern membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian.
Ia membutuhkan data, keahlian, jaringan, pendanaan, regulasi dan kolaborasi lintas sektor.
Dari meja diskusi menuju meja kebijakan
Aswin juga membayangkan FOKSI sebagai lembaga yang independen, kuat dan mandiri.
Sebuah forum untuk berdiskusi sekaligus menjadi “corong komunikasi” konservasi.
Lebih jauh, ia melihat FOKSI memiliki peluang untuk ikut mendorong lahirnya regulasi pemerintah yang lebih berpihak kepada konservasi.
Ini merupakan wilayah penting. Sebab masa depan hutan dan satwa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam kawasan konservasi. Ia juga dipengaruhi oleh keputusan ekonomi, tata ruang, pembangunan, perdagangan, pendidikan dan kebijakan publik.
Karena itu, suara konservasi perlu hadir di ruang tempat kebijakan dibuat.
OWAKA 2026 dan babak baru FOKSI
Pembukaan OWAKA 2026 di Taman Safari Bogor akhirnya bukan sekadar agenda organisasi.
Ia menjadi semacam titik awal untuk mempertanyakan kembali: seperti apa seharusnya gerakan konservasi Indonesia menghadapi tiga atau empat dekade mendatang?
Aswin melihat OWAKA sebagai momentum penting untuk melihat seperti apa bentuk FOKSI 2.0 akan dilahirkan.
Taman Safari Indonesia pun menyatakan kesiapannya untuk menjadi bagian dari proses tersebut.
Bukan hanya menyediakan tempat, tetapi juga berbagi pengetahuan, pengalaman, keahlian dan jaringan.
Pada akhirnya, konservasi bukan perlombaan siapa yang paling keras berbicara.
Konservasi adalah perjalanan panjang untuk memastikan hutan tetap berdiri, ekosistem tetap bekerja, dan satwa liar tetap memiliki ruang untuk hidup.
Dan mungkin, seperti yang tersirat dari pesan Aswin, FOKSI tidak perlu kembali menjadi seperti dahulu. Ia justru harus berani menjadi sesuatu yang baru.
Sebab dunia telah berubah. Teknologi berubah. Ekonomi berubah. Generasi berubah.
Tetapi satu pertanyaan tetap sama:
Bisakah manusia menjaga alam yang menjadi rumah bagi seluruh kehidupan? (Marwan Aziz).

