Pertanian Berkelanjutan, Solusi untuk Mengatasi Krisis Iklim dan Perlindungan Ozon

Berita Lingkungan News Pertanian Riset Terkini

Lahan uji pelapukan kedelai yang ditingkatkan di Energy Farm, University of Illinois, Urbana-Champaign. Foto :  Dimitar Epihov, Leverhulme Centre, University of Sheffield.

SHEFFIELD, BERITALINGKUNGAN.COM– Metode pertanian terbaru menunjukkan bahwa emisi nitrogen oksida (N2O) dapat dikurangi tanpa memperlambat pemulihan lapisan ozon, hal ini didasarkan pada hasil penelitian terbaru.

Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari University of Sheffield menunjukkan bahwa penambahan batu basal yang dihancurkan dan pupuk khusus dapat mengurangi emisi gas rumah kaca N2O yang kuat serta melindungi lapisan ozon stratosfer, yang melindungi kita dari sinar UV berbahaya dan mengurangi pencucian nitrat ke badan air, sehingga melindungi ekosistem dan kesehatan manusia.

Studi ini menyoroti metode untuk mengurangi emisi N2O, seperti pelapukan batuan yang ditingkatkan pada tanah pertanian dengan batu basal yang dihancurkan, yang menawarkan manfaat bersama yang hemat biaya untuk mitigasi N2O dengan penghematan finansial bagi petani sambil membantu mereka mencapai tujuan iklim.

Hasil penelitian menekankan pentingnya mitigasi N2O untuk pertanian berkelanjutan, sejalan dengan upaya mencapai emisi nol bersih dan mendukung peningkatan produksi pangan untuk populasi yang terus bertambah.

N2O, gas rumah kaca yang 300 kali lebih kuat dari CO2, meningkat dengan cepat di atmosfer. Pertanian berkontribusi signifikan terhadap emisi N2O. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk khusus dan batu basal yang dihancurkan (enhanced rock weathering) memiliki potensi untuk mengurangi emisi N2O pertanian tanpa merusak lapisan ozon (O3).

Tim peneliti dari Leverhulme Centre for Climate Change Mitigation di University of Sheffield menggunakan model sistem bumi canggih untuk mensimulasikan efek pengurangan emisi N2O dengan pupuk yang mengandung inhibitor nitrifikasi dan pelapukan batuan yang ditingkatkan, dalam dua skenario iklim yang berbeda yang mengikuti kesepakatan internasional untuk melindungi lapisan ozon.

Model ini memungkinkan penelitian mempertimbangkan bagaimana gas penting lainnya (seperti CFC) dan kondisi iklim masa depan mempengaruhi atmosfer. Skenario tersebut berbeda dalam seberapa besar suhu Bumi akan meningkat.

Pengurangan N2O yang dipertimbangkan dalam analisis mewakili strategi yang direncanakan dan menunjukkan bagaimana strategi pengurangan ini dapat mempengaruhi lapisan ozon dalam berbagai kondisi di masa depan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature npj Climate and Atmospheric Science ini unik karena menjembatani mitigasi perubahan iklim dan perlindungan lapisan ozon, menyoroti manfaat ganda dari strategi pengurangan N2O yang dapat memberikan manfaat iklim yang substansial dengan mendinginkan planet dari pengurangan N2O, melindungi lapisan O3 dan karenanya tidak mempengaruhi sinar UV yang berbahaya, serta manfaat lingkungan dengan mengurangi pencucian nitrat ke badan air dan habitat alami. Integrasi ini penting untuk mengembangkan kebijakan lingkungan yang komprehensif.

Dr Maria Val Martin dan Dr David Beerling dari School of Biosciences dan Leverhulme Centre for Climate Change Mitigation di University of Sheffield memimpin penelitian ini. Penelitian dilakukan oleh Dr James Weber, mantan peneliti postdoctoral di University of Sheffield.

Dr Val Martin, UKRI Future Leaders Fellow di School of Biosciences dan salah satu penulis studi tersebut mengatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk dengan inhibitor nitrifikasi dan pelapukan batuan yang ditingkatkan dapat mengurangi emisi N2O pertanian sekitar 25 persen tanpa menghambat pemulihan ozon.

“Ini mendukung keselarasan praktik pertanian dengan kebijakan iklim dan perlindungan ozon internasional, seperti Protokol Montreal, dan kami berharap ini akan mempengaruhi pembuat kebijakan untuk mengintegrasikan langkah-langkah mitigasi N2O lebih kuat ke dalam rencana aksi iklim dan berpotensi mengarah pada regulasi baru dan insentif bagi petani untuk mengadopsi praktik-praktik ini.”kata Dr Val Martin seperti dikutip Beritalingkungan.com dari laman sheffield.ac.uk (11/07/2024)

Analisis ekonomi dari penelitian ini juga menunjukkan manfaat bersama yang hemat biaya dari praktik pelapukan yang ditingkatkan untuk pengurangan N2O.

Profesor David J Beerling, Direktur Leverhulme Centre for Climate Change Mitigation dan salah satu penulis studi tersebut mengatakan temuan ini menekankan pentingnya mitigasi N2O untuk pertanian berkelanjutan, sejalan dengan upaya mencapai emisi nol bersih sambil tetap mendukung peningkatan produksi pangan untuk populasi yang terus bertambah.

“Studi ini menyoroti metode yang hemat biaya untuk mengurangi emisi N2O, seperti pelapukan batuan yang ditingkatkan pada tanah pertanian dengan batu basal yang dihancurkan. Praktik-praktik ini menawarkan penghematan finansial bagi petani dan dapat mengurangi keseluruhan biaya pencapaian tujuan iklim, yang menguntungkan pembayar pajak dan konsumen.”tuturnya.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pengurangan emisi N2O dari pertanian adalah cara yang aman dan efektif untuk melawan perubahan iklim sambil melindungi lapisan ozon. Diharapkan hal ini akan mengarah pada praktik pertanian baru yang baik untuk planet ini dan untuk manusia (Marwan Aziz)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *