The SMERU Research Institute Dorong Perlunya Peningkatan Kesejahteraan Warga Pesisir Dekat Area Konservasi

Berita Lingkungan Laut News Terkini

Kawasan hutan mangrove Sofifi, Ibukota Provinsi Maluku Utara yang menawan dilihat dari udara. Foto : Opan Jacky.

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM – Hasil studi terbaru dari The SMERU Research Institute menyoroti perlunya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir yang berdekatan dengan kawasan konservasi perairan.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya memerlukan fokus pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga harus sejalan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat.

Menurut Annabel Noor Asyah, peneliti dari SMERU, kondisi sosial-ekonomi masyarakat di desa-desa sekitar kawasan konservasi seringkali menghadapi tingkat ketimpangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan desa di luar kawasan tersebut.

“Ini menunjukkan perlunya integrasi pengetahuan tentang kesejahteraan masyarakat dalam strategi pengelolaan kawasan konservasi perairan,” ujarnya dalam Forum Kajian Pembangunan 2024 seperti dikutip Beritalingkungan.com dari Antara (24/06/2024).

Kajian ini juga mengidentifikasi bahwa tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir tidaklah seragam di setiap kawasan konservasi. Imam Fauzi dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor budaya lokal dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mereka. “Tanpa pemahaman yang mendalam terhadap aspek budaya lokal, program-program untuk peningkatan kesejahteraan bisa gagal mencapai tujuan,” tambahnya.

Di lain pihak, Andi Rusandi, Ahli Utama dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menyampaikan beberapa tantangan dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan, seperti meningkatnya kebutuhan akan protein, pemenuhan pasar ekspor dan domestik, serta permasalahan sampah laut yang semakin mengkhawatirkan. KKP sendiri telah mengambil langkah dengan kebijakan pengembangan budi daya laut dan program Bulan Cinta Laut untuk mengurangi jumlah sampah laut hingga 70% pada tahun 2030.

Studi ini mengingatkan bahwa upaya untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat pesisir perlu didukung dengan kebijakan yang terintegrasi dan memperhatikan dinamika lokal serta kebutuhan sosial-ekonomi yang beragam di setiap wilayah konservasi perairan.

Dengan demikian, langkah-langkah strategis yang holistik dan berkelanjutan menjadi kunci untuk mencapai tujuan pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berhasil, yang tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir secara merata (Ant/BL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *