Dua Orang Meninggal Dunia Akibat Tanah Longsor di Kabupaten Pegunungan Arfak

Bencana Berita Lingkungan News Terkini

Tim gabungan mengevakuasi warga terdampak tanah longsor yang terjadi di Kampung Mitiede, Distrik Minyawbouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat, Minggu (26/5).  Foto :BPBD Kabupaten Pegunungan Arfak.

MANOKWARI, BERITALINGKUNGAN.COM – Dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat, pada Minggu (26/5). Hujan berintensitas lebat yang berlangsung cukup lama di wilayah setempat menjadi penyebab utama terjadinya tanah longsor ini.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., menyampaikan bahwa berdasarkan data yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (26/5) malam, total korban jiwa akibat tanah longsor di Kampung Mitiede, Distrik Minyawbouw, berjumlah lima orang. Dua orang masih dalam pencarian dan satu orang selamat yang saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Warmare, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat.

“Tanah longsor yang terjadi dilaporkan juga menyebabkan enam unit rumah mengalami rusak berat akibat tertimbun material longsor. Selain itu, longsor juga mengakibatkan terputusnya akses jalan di Kampung Mitiede. Sebagai upaya penanganan darurat, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Pegunungan Arfak, BPBD Provinsi Papua Barat, Basarnas, dan TNI-Polri melakukan evakuasi dengan mengerahkan sejumlah peralatan SAR serta melakukan kaji cepat dampak bencana,” ujar Muhari pada Selasa (28/5/2024).

Ia menuturkan operasi pencarian korban hilang oleh tim gabungan yang sempat dihentikan sementara akibat cuaca ekstrem semalam sudah dilanjutkan kembali dengan mengerahkan alat berat.

Guna meminimalisir dampak cuaca ekstrem, masyarakat dan pemerintah setempat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi terhadap potensi bencana yang dapat dipicu oleh faktor cuaca. Salah satunya adalah melakukan pembersihan drainase dan saluran air di permukiman secara berkala. Monitoring sungai dan pembersihan material sampah yang dapat menyumbat aliran sungai juga perlu dilakukan sesering mungkin untuk memaksimalkan daya tampung debit air sungai.

“Jika terjadi hujan lebat dalam durasi lebih dari satu jam, masyarakat yang tinggal di sekitar lereng sungai maupun tebing agar mengevakuasi diri secara mandiri sementara. Masyarakat juga diimbau untuk senantiasa memperbarui perkembangan informasi prakiraan cuaca dari BMKG maupun BPBD setempat untuk mendapatkan rekomendasi pencegahan dan kesiapsiagaan,” tandasnya (Marwan Aziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *