Sepasang Macan Tutul dan Macan Kumbang Terekam CCTV di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Berita Lingkungan News Satwa Terkini

Ilustrasi macam tutul.

CIANJUR, BERITALINGKUNGAN.COM – Sepasang macan tutul dan macan kumbang tertangkap kamera pemantau (CCTV) berjalan beriringan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya di kawasan Gunung Gede Pangrango. Akibatnya, pendaki dilarang membuang sisa makanan agar hewan dilindungi tersebut tidak mendekati jalur pendakian.

Kepala Balai Besar TNGGP Cianjur, Sapto Aji, di Cianjur, Minggu, mengatakan bahwa meskipun keberadaan macan itu jauh dari jalur pendakian, berbagai upaya antisipasi tetap dilakukan agar hewan dilindungi itu tidak terganggu dan berubah pola hidupnya di alam.

“CCTV yang terpasang sangat jauh dari jalur pendakian, namun kami tetap melarang pendaki menyisakan makanan atau sampah yang dapat menarik perhatian hewan yang hidup di habitat aslinya,” kata Sapto seperti dikutip Beritalingkungan.com dari Antara (27/05/2024).

Macan kumbang terpantau dari kamera pemantau yang dipasang Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat.(Ahmad Fikri)

Dia menjelaskan, hasil rekaman kamera pengintai menunjukkan seekor macan tutul berjalan di tengah hutan. Selang beberapa saat, menyusul macan tutul berwarna hitam di belakangnya sambil mendekati kamera yang terpasang.

“Macan berwarna hitam merupakan spesies macan tutul, namun pigmen kulit menjadikannya berwarna hitam atau yang biasa disebut macan kumbang. Kami belum mengetahui apakah kedua macan tutul tersebut merupakan pasangan jantan dan betina atau induk dan anak,” katanya.

Sapto mencatat bahwa saat ini ada 24 ekor macan tutul dan macan kumbang yang tinggal di kawasan Gunung Gede Pangrango. Untuk memastikan jumlah tersebut, tahun ini akan dilakukan survei jumlah macan tutul di Pulau Jawa, termasuk di kawasan TNGGP.

Selama ini, perkembangan biakan macan tutul di Gunung Gede Pangrango terjadi secara alami dengan habitatnya yang dijaga oleh petugas. “Belasan petugas melakukan pengawasan dan pengamanan habitat hewan langka dan dilindungi itu,” katanya.

Dia menegaskan bahwa keberadaan macan tutul tersebut sangat jauh dari jalur pendakian. Secara naluri, satwa liar menghindari manusia, namun pihaknya tetap meminta pendaki untuk tidak meninggalkan sampah sisa makanan karena dapat mengubah perilaku hewan meskipun hidup dan tinggal di habitatnya.

“Pendaki jangan menyisakan atau memberikan makanan saat menemukan hewan di taman nasional karena nanti mereka akan ada di sekitar jalur pendakian,” pungkasnya (Ant/BL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *