Restorasi Ekosistem Karst Penting untuk Keberlanjutan Lingkungan

Berita Lingkungan Hutan News Terkini

Panorama kawasan Karst Maros Pangkep. Foto: Instagram/@visit_sulsel.

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM – Kawasan karst, dengan kondisi hidrologi dan bentuk lahan spesifik, merupakan aset penting bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan manusia. Namun, kawasan ini kini menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari pembukaan vegetasi untuk pemukiman hingga aktivitas penambangan.

Ketua Kelompok Riset Restorasi, Replikasi Ekosistem Esensial, dan Kawasan Ekosistem BRIN, Yongky Indrajaya, menegaskan pentingnya upaya pelestarian dan restorasi agar ekosistem karst tidak mengalami degradasi berkelanjutan. “Replikasi ekosistem esensial di dalam kawasan konservasi juga menjadi salah satu strategi kunci dalam upaya ini (restorasi),” ujarnya dalam sebuah diskusi yang dipantau di Jakarta, Kamis (16/05).

Yongky menjelaskan bahwa ekosistem karst, dengan keanekaragaman hayati dan fitur geologis yang unik, memberikan kontribusi besar terhadap keberagaman lingkungan dan kehidupan manusia. Namun, karst sangat rentan terhadap berbagai ancaman, mulai dari aktivitas penambangan yang merusak hingga perubahan iklim yang tak terkendali. Kerusakan pada ekosistem karst tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati tetapi juga mengganggu keseimbangan air bawah tanah yang sangat penting bagi masyarakat sekitar.

“Di tengah tantangan itu, kelompok-kelompok riset terkait karst memainkan peran penting dalam mengembangkan metode dan strategi yang efektif untuk merestorasi. Penelitian yang dilakukan membantu kami memahami dinamika ekosistem karst dan menemukan pendekatan terbaik untuk memulihkan karst,” kata Yongky seperti dikutip Beritalingkungan.com dari Antara.

“Kawasan konservasi yang didesain dengan mempertimbangkan replikasi ekosistem karst dapat berfungsi sebagai laboratorium alami di mana teknik-teknik restorasi dapat diuji dan dimodifikasi dengan baik untuk mencapai hasil yang optimal,” imbuhnya.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Eko Haryono, mengungkapkan bahwa tutupan vegetasi kawasan karst di Indonesia saat ini mencapai 78,99 persen, sementara luas lahan terbangun mencapai 2,97 persen. Lokasi karst dengan tutupan vegetasi paling rendah berada di Nusa Tenggara dan Jawa-Bali, masing-masing dengan persentase 39,92 persen dan 40,79 persen. Sedangkan, luas lahan terbangun paling tinggi berada di Jawa-Bali sebesar 18,95 persen dan Nusa Tenggara sebanyak 3,93 persen.

Kebutuhan manusia terhadap batu gamping membuat ekosistem karst semakin terancam. Konsumsi rata-rata masyarakat dunia terhadap batu gamping sebanyak 750 kilogram per kapita per tahun, sedangkan konsumsi rata-rata masyarakat Indonesia sebesar 360 kilogram per kapita per tahun. Batu gamping dari kawasan karst digunakan dalam berbagai industri, termasuk gula, plastik, karet, pasta gigi, kertas, tekstil, farmasi, kosmetik, karpet, pupuk, pakan ternak, pemutih, baking powder, hingga peleburan mineral.

Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa manajemen perlindungan ekosistem karst dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti taman nasional, suaka margasatwa, cagar alam, geopark, taman hutan rawa, taman wisata alam, maupun taman wisata perairan.

Upaya restorasi dan pelestarian ekosistem karst sangat penting untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan manusia yang bergantung pada ekosistem ini. Diperlukan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk peneliti, pemerintah, dan masyarakat, untuk menghadapi tantangan yang ada dan menjaga kelestarian ekosistem karst untuk masa depan (Ant/BL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *