Mengubah Paradigma Pertanian : Diversifikasi untuk Masa Depan Berkelanjutan

Berita Lingkungan News Pertanian Riset Terkini

Perkebunan stroberi yang “terdiversifikasi”, juga di California, tempat buah beri tumbuh berdampingan dengan tanaman lain. Foto : Claire Kremen.

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM-Sebuah penelitian baru-baru ini menyoroti pentingnya pertanian yang beragam dalam mendukung lingkungan dan masyarakat secara bersamaan.

Rotasi tanaman, konservasi nutrisi tanah, dan penerapan strategi lain untuk “mendiversifikasi” pertanian secara bersamaan dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan masyarakat, termasuk peningkatan hasil panen dan peningkatan keamanan pangan bagi seluruh komunitas.

Studi tersebut melibatkan peneliti dari lebih dari 15 negara dan data dari 2.655 petani di lima benua. Tim tersebut mempublikasikan temuannya pada 4 April dalam jurnal Science.

“Ini adalah bukti bahwa ini sebenarnya bisa berhasil – kita dapat membayangkan sistem pertanian yang lebih beragam dan melayani masyarakat dan alam pada saat yang sama,” kata Zia Mehrabi, salah satu penulis studi tersebut dan profesor asisten studi lingkungan di CU Boulder.

Penelitian ini datang pada saat pertanian di seluruh dunia semakin beralih hanya pada satu jenis tanaman atau hewan saja, yang disebut “monokultur” pertanian. Ini bisa membawa risiko seperti hilangnya nutrisi tanah dan penyebaran wabah hama.

Di Amerika Serikat, jumlah petani di negara itu menurun pada tahun 2022 menjadi level terendah sejak sebelum Perang Saudara, menurut Departemen Pertanian AS. Petani yang tersisa cenderung memiliki lahan yang lebih besar dan lebih sederhana.

Laura Vang Rasmussen dari Universitas Kopenhagen, Denmark, yang bersama Ingo Grass dari Universitas Hohenheim di Jerman, menjadi penulis utama penelitian tersebut. “Tinggalkan pola pikir monokultur dan industri dan diversifikasikan cara Anda bertani – itu akan menguntungkan,” kata Rasmussen seperti dikutip Beritalingkungan.com dari laman Colorado.edu (06/04/2024).

Perkebunan stroberi “monokultur” di California. Foto : Claire Kremen.

Penelitian ini menyajikan pendekatan baru dalam topik yang hangat di berbagai kalangan lingkungan: diversifikasi pertanian. Istilah ini mencakup berbagai strategi untuk menanam lebih dari satu tanaman dalam satu lahan, tahun demi tahun.

Mehrabi dan rekan-rekannya mencoba pendekatan yang berbeda dalam penelitian ini: mereka menggunakan kombinasi metode partisipatif dan alat statistik untuk menganalisis data dari 24 sistem studi. Hasil mereka menangkap informasi dari operasi strowberi massal di Amerika Serikat hingga ladang jagung kecil di Malawi dan kebun kelapa sawit di Indonesia.

“Membuat pertanian kompleks lagi,” begitu disampaikan Mehrabi. Dalam banyak kasus, pertanian yang lebih beragam dapat memberikan manfaat ekstra karena dapat lebih baik mengatasi bencana alam seperti kekeringan atau gelombang panas.

Meskipun tantangan finansial bisa menjadi penghalang, Mehrabi dan rekan-rekannya mengakui bahwa pemerintah sudah menghabiskan jumlah besar untuk mendukung industri pertanian. Sebagian negara, misalnya, mensubsidi petani agar mereka dapat menanam tanaman yang membutuhkan air di daerah yang kurang hujan. Uang itu mungkin lebih baik digunakan untuk membantu petani melakukan diversifikasi.

“Dengan harapan, penelitian ini akan menginspirasi orang untuk menjadi kreatif dan bahkan mendorong batas-batas apa yang dapat dicapai spesies manusia,” pungkas Mehrabi (Marwan Aziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *