Film Majestic Tambora, Inspirasi Tentang Kearifan Lokal Dari Tambora Yang Melegenda

Berita Lingkungan Gunung Gunung Tambora Harley Sastha Majestic Tambora News Pendaki Gunung Penggiat Alam Terkini

JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM — Harley Sastha, seorang penggiat alam dan penulis buku membuat film Majestic Tambora untuk mengapresiasi letusan kolosal Gunung Tambora yang telah dikenal luas dan melegenda.

 

Dalam film dokumenter tersebut, Harley berperan sebagai produser sekaligus pemain. Secara khusus dia ingin mengangkat kembali kemahsyuran gunung api di Indonesia, khususnya Tambora. Harley juga menapaktilasi jejak Heinrich Zollinger, pendaki pertama Eropa yang mencapai puncak kaldera Tambora.

 

Bahkan, Harley mengunjungi salah satu kerajaan dengan anggota keluarga yang masih tersisa untuk mengetahui dampak dari erupsi Tambora. Tak hanya itu, dia juga bertemu sejarahwan, ahli konservasi, geolog dan budayawan untuk melihat bagaimana Tambora yang kini berstatus Taman Nasional telah memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. 

 

“Saya juga sudah banyak menulis artikel tentang Tambora di berbagai media dan majalah Nasional sejak 2008 dan juga menulis buku pendakian Tambora,” katanya.

 

Sejarah erupsi Tambora yang luar biasa, bagi Harley harus dijadikan pelajaran dan Tambora baginya merupakan salah satu gunung yang istimewa. “Selain karena kalderanya, tentu letusannya menjadi inspirasi pendorong lahirnya berbagai pengetahuan di dunia” tuturnya.

 

Melalui film, menurut pria yang sejak kecil senang berwisata alam itu, Majestic Tambora bisa menjadi kebanggaan masyarakat di lingkar Tambora serta menyadarkan masyarakat semua bahwa Tambora harus dijaga kelestariannya.

 

“Potensi sejarah serta alamnya Tambora dan sekitarnya punya tempat menarik. Seperti kalau lewat wilayah Sanggar, banyak pantai-pantai cantik dengan pasir putih” terangnya.

 

Harley menilai, pengembangan berkuda di wilayah Sanggar dan Doroncanga akan semakin menarik, karena memberi pengalaman unik saat mendaki Tambora. Lagi-lagi, hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah letusan dan kerajaan-kerajaan di lingkar Tambora.

 

“Akarnya tetap sejarah Tambora” ungkapnya.

 

Melalui film Majestic Tambora, Harley berharap Gunung Tambora dapat digunakan sebagai salah satu laboratorium gunung api dunia. Pasalnya, sejak tahun 2016, tanggal letusan Gunung Tambora, 10 April sudah diajukan ke Unesco untuk ditetapkan sebagai Hari Gunung Api Internasional.

 

“Itu merupakan upaya untuk mendorong penetapan tanggal 10 April (peristiwa letusan Tambora) sebagai Hari Gunung Api Internasional. Usul itu pertama kali dimunculkan dua pemerhati gunung berapi dunia, Tanguy De Saint-Cyr dan Jeannie Curtis, pada 2016 kepada UNESCO,” paparnya.

 

Kendati filmnya telah dilaunching pada akhir Januari lalu, Harley tidak pernah merasa puas. Ia berniat untuk menghasilkan karya dokumenter lainnya dengan tetap berangkat dari sejarah dan potensi yang ada.

 

“Jadi tidak bisa disamakan,” katanya.

 

Secara sepesifik, dia mengungkapkan filmnya nanti masih akan bersinggungan dengan alam, budaya dan konsevervasi lingkungan. Pun, ada unsur pendidikan di dalamnya.

 

“Harus masuk semua, termasuk edukasi,” jelasnya.

Bentang alam Tambora. (foto: Harley B. Sastha)

Catatan Sejarah

Gunung Tambora berdiri gagah di ujung utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dan berada di dalam kawasan konservasi yaitu Taman Nasional Tambora, yang merupakan taman nasional ke 51 di Indonesia. 

 

Puncak Tambora menjadi magnet tersendiri bagi para pendaki tidak hanya dari Indonesia namun juga mancanegara. Saat ini, ada 4 jalur pendakian yang menjadi pintu masuk bagi para pendaki yaitu Doroncanga, Kawinda To’i, Pancasila dan Piong. Di kaki Tambora, hamparan padang savana, bukit, lahan kering, tanah kuning kecokelatan, semak belukar akan menyambut para petualang. 

 

“Kawanan kuda dan kerbau yang sedang merumput adalah pemandangan khas yang sering dijumpai,” kata Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) saat menghadiri launching dokumenter Majestic Tambora di studio Perpustakaan Nasional Jakarta pada Senin (31/1) lalu.

 

Wiratno mengatakan, Tambora tidak hanya menarik perhatian para pendaki, namun juga para ahli vulkanologi. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa letusan Tambora telah mencatat sejarah penting dalam peradaban manusia pada 200 tahun lalu. 

 

Letusannya yang mencapai skala 7 Volcanic Explosivity Index (VEI) pada April 1815,  mengoyak langit dan bumi, meninggalkan lubang sedalam 1.100 meter-terdalam di dunia, dengan diameter 7 km. 

 

“Tinggi semula yang diduga pada 4.300 mdpl, setelah memuntahkan isi perutnya, tubuhnya menghilang hingga menyisakan ketinggian pada 2.851 mdpl,” terangnya.

 

Letusan dahsyat Tambora telah menggulung tiga kerajaan; Pekat, Sanggar dan Tambora. Peradaban di seputar Tambora pun musnah. Jumlah korban tewas diperkirakan mencapai 92.000 jiwa. Ini belum termasuk kematian yang melanda Eropa dan Amerika, yang turut merasakan dentuman Tambora. 

 

Akibat abu vulkanik, dua benua dipisahkan samudera itu di dera kelaparan.Sekitar setahun usai letusan, pada 1816, Eropa dan Amerika melewati tahun tanpa musim panasatau dikenal sebagai “Year without Summer”.  

 

Bahkan kekalahan Napoleon Bonaparte pada perang Waterloo, diyakini sebagai dampak tak langsung letupan Tambora. “Pemicunya adalah musim dingin yang panjang dan kegagalan panen,” ujarnya.

 

Arkeolog Haroldur Sidurdsson dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat yang melakukan penggalian di Tambora bersama Direktorat Vulkanologi, menyebutnya sebagai “Pompeii dari Timur”. Sebutan ini mengacu pada situs kota Romawi Kuno, Pompeii, dekat Napoli, Italia, yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.

 

Letusan Gunung Tambora tidak hanya menimbulkan bencana alam dan kemanusiaan saat letusan dan beberapa tahun paskanya, tetapi juga melahirkan hal-hal yang luar biasa dalam sejarah pengetahuan, seni, budaya dan sastra. 

 

Harley saat mendaki Gunung Tambora. (foto: Harley B. Sastha)

200 Tahun Tambora

Letusan gunung Tambora merubah bentang alam dengan menyisakan kaldera terdalam di dunia. Untuk memperingati 200 tahun meletusnya Tambora, pada tanggal 11 April 2015 sebuah event digelar dengan tajuk  “Tambora Menyapa Dunia” yang diselenggarakan di Dompu, Sumbawa. 

 

Acara itu dihadiri oleh sekitar 15.000 orang baik dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk Presiden RI, Joko Widodo. Pada kesempatan tersebut, Presiden meresmikan Taman Nasional Tambora sebagai taman nasional ke 51 yang dimiliki Indonesia. 

 

Hingga saat ini, menurut Wiratno, para ahli seperti ahli vulkanologi, geologi dan  arkeolog masih terus memberikan perhatiannya kepada gunung yang masih aktif ini. Jejak-jejak letusan Tambora sampai hari ini masih terus diteliti. Diamnya Tambora tak berarti tidak ada kehidupan didalam kaldera. 

 

Ditemukannya kotoran Rusa, mata air dan satu jenis burung merupakan bukti adanya kehidupan. “Untuk itu, menjadi tugas kita bersama untuk terus melakukan penelitian dan upaya-upaya pelestarian agar Taman Nasional Tambora tetap dapat menjalankan perannya bagi kelestarian alam dan peradaban manusia,” ujar Wiratno.

 

Rupanya fakta-fakta sejarah tersebut menarik perhatian pemerhati alam dan lingkungan, dan para pejalan atau traveller yang berada dalam sebuah group bernama Baraka Bumi, dan anggotanya mempunyai keahlian dalam bidang menulis dan penyiaran. 

 

Mereka menginisiasi untuk mendokumentasikan jejak-jejak letusan Tambora dalam sebuah film. Ide ini disambut baik oleh Balai Taman Nasional Tambora. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah film dokumenter yang berjudul “Majestic Tambora”. (Jekson Simanjuntak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.