26.07.2010 21:37 WIB - PERISTIWA | oleh: Redaksi
Walhi: Tulisan Ipul soal Ilog dan Kerusakan Lingkungan Cukup Tajam
Jakarta, BERLING- Kepergian Muhammad Syaifullah tak hanya mengejutkan rekan-rekannya sesama wartawan Kompas dan wartawan media lainnya di Jakarta dan Kalimantan, tetapi juga sejumlah aktivis lingkungan.
Selama bertugas di Kalimantan, pria yang akrab disapa Ipul ini dikenal dekat dan intens berkomunikasi dengan lembaga swadaya masyarakat pemerhati isu lingkungan.
Satu di antaranya adalah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim. Direktur Eksekutif Walhi Kaltim Isal Wardhana mengaku kaget begitu mendapatkan kabar jika Muhammad Syaifullah, wartawan yang dikenal sangat bersahabat dan low profile, itu ditemukan meninggal pagi tadi.
Isal mengatakan, selama bertugas di wilayah Kalimantan, dirinya cukup intens berkomunikasi dengan Ipul, baik melalui telepon maupun bertatap muka langsung.
"Topik atau isu yang ditanyakan bang Ipul ke saya tak pernah lepas dari isu masalah lingkungan, apakah itu illegal logging, pertambangan batubara, perambahan hutan terkait pembukaan lahan kelapa sawit, dan masalah illegal fishing," ujar Isal kepada Tribunnews.com, Senin (27/7/2010).
Isal mengaku, terakhir kali wawancara dengan Ipul saat mengangkat tulisan tentang penangkapan suku Bajau Telau terkait tuduhan melakukan illegal fishing di perairan Kabupaten Berau, Kaltim.
"Saat itu, Ipul meminta tanggapan saya terkait keberadaan suku Bajau Telau ini, dan kaitannya dengan illegal fishing yang mereka lakukan," ujar Isal.
Suku Bajau Telau adalah sebuah komunitas yang bermukim di perairan atau laut. Mereka sudah berpuluh-puluh tahun berada di laut dan hidup mereka berpindah-pindah. Tak hanya di perairan Selat Makassar tetapi juga perairan Asean.
"Bahkan saat itu, Ipul berangkat ke Berau untuk meliput langsung kondisi di sana, melihat dari dekat keberadaan suku Bajau Telau ini," terang Isal. Sosok Ipul, di mata Isal, dikenal sebagai pekerja keras dan cermat dalam melakukan peliputan. Ia tak segan-segan turun langsung ke lapangan untuk melihat secara langsung apa yang terjadi di lapangan.
Berbagai liputan terkait masalah lingkungan, seperti illegal logging, perambahan hutan untuk pembukaan lahan kelapa sawit, hingga kerusakan lingkungan akibat tambang batu bara, ungkap Isal, Ipul tak jarang turun langsung ke lokasi.
"Harus diakui, tulisan-tulisan Ipul terkait isu lingkungan dan dampaknya, di Kaltim maupun Kalimantan pada umumnya, sangat tajam. Meski tak secara spesifik 'memvonis' perusahaan A atau perusahaan B yang melakukan pembalakan atau pengrusakan lingkungan, namun setidaknya tulisan-tulisan Ipul telah membuka mata publik betapa parahnya kerusakan hutan dan lingkungan di Kaltim dan Kalimantan pada umumnya," papar Isal.
Isal menambahkan, terakhir kali bertemu dengan Ipul saat dirinya berada di Palangkaraya (Kalteng). "Waktu itu Ipul mengatakan akan meliput ke salah satu daerah di mana daerah itu ada pembukaan perkebunan kelapa sawit yang mengancam kerusakan lingkungan dan lahan warga sekitar," terang Isal.
"Kami tanpa sengaja bertemu di Palangkaraya. Saat itu saya kebetulan sedang bersama kawan-kawan Walhi Kalteng," ujarnya.
Sebagai warga asli Kalimantan, yang lahir dan dibesarkan di wilayah yang kaya akan berbagai jenis tumbuhan, pepohonan, sumber daya alam, dan laut, Ipul pun tak jarang mengungkapkan kegelisahan dan kekhawatirannya akan kerusakan lingkungan dan perambahan hutan yang marak terjadi di Kaltim.
Dan itu diakui Isal. "Dalam beberapa kesempatan, ketika sedang berbicara via telepon, disela-sela wawancara, Ipul mengungkapkan keprihatiannya atas kondisi lingkungan yang terjadi di Kaltim saat ini. Dia khawatir dengan dampak yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas yang mengarah pada pengrusakan lingkungan."
Tak hanya dengan aktivis lingkungan di Kaltim dan Kalteng, sosok Ipul juga dekat dengan aktivis di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Direktur Eksekutif Gamawan, Laily Hainur, juga mengaku kaget ketika mendapat kabar bahwa Muhammad Syaifullah, wartawan Kompas, meninggal pagi tadi.
"Saya mendapat kabar via SMS dari rekan wartawan Media Indonesia Pontianak , pagi tadi sekitar pukul 10.00," ujar Laily.
Laily mengenal Ipul ketika wartawan Kompas tersebut bertugas di Pontianak pada tahun 2005 silam. Di mata Laily, ia mengenal Ipul sebagai sosok yang supel, baik, dan tak banyak tingkah. Saat bertugas di Pontianak, kata Laily, Ipul aktif mengikuti diskusi soal isu-isu lingkungan maupun korupsi yang digelar Gerakan Masyarakat Sipil.
Tak hanya itu, Ipul juga dikenal sebagai wartawan di Kalimantan Barat yang intens menulis masalah-masalah kerusakan lingkungan maupun illegal logging. "Dia termasuk wartawan yang peduli terhadap masalah-masalah lingkungan. Tak hanya di Pontianak, tetapi juga di wilayah kabupaten lainnya, termasuk di Ketapang," kata Laily.
Tak heran bila kabar meninggalnya Ipul juga sampai ke telinga aktivis lingkungan di Ketapang. "Seorang rekan aktivis di Ketapang juga kaget mendengar kabar meninggalnya Ipul."
Laily menyatakan bahwa dirinya mendapatkan kabar jika kematian Ipul diduga karena diracun. Namun ia berharap kabar tersebut tidak benar. Dan kalaupun benar, ia berharap agar wartawan yang memiliki resiko tinggi mendapat ancaman atau tindak kekerasan atas laporan dan liputannya kiranya mendapat perlindungan.
Almarhum Ipul ditemukan pertamakali oleh rekannya, Wahyu Hidayat, mantan wartawan salah satu media elektronik. Saat ditemukan, tubuhnya kaku, tangan kanannya masih menggenggam erat remote control televisi, sementara mulutnya dipenuhi busa. Korban bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam dan sarung.
Wahyu mengaku menerima telepon dari istri Almarhum, Senin (26/7/2010), pagi karena sejak Sabtu (24/7/2010) Syaifullah sulit dihubungi.
"Akhirnya saya langsung ke rumahnya. Saya lihat motor dan mobilnya ada di garasi. Saya ketok pintu rumah tapi tidak ada jawaban. Akhirnya saya masuk. Ternyata pintu rumah tidak terkunci, sementara anak kunci tergantung bagian di luar," tutur Wahyu.
Selama menjadi wartawan Kompas, Syaifullah banyak bertugas di wilayah Kalimantan, mulai dari Samarinda, kemudian ke Pontianak, Banjarmasin, lalu menjadi Kepala Biro wilayah Kalimantan dan tinggal di Balikpapan. Mulai bergabung di Kompas sejak 1997.
Syaifullah merupakan kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalsel. Almarhum merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS). (anwarsadat/tribun)
Komentar




